Senin, 11 November 2019

Analog & Digital


2.1 Sejarah tentang TV Analog dan TV Digital

Televisi digital atau DTV adalah jenis televisi yang menggunakan modulasi digital 
dan sistem kompresi untuk menyiarkan sinyal gambar, suara, dan data ke pesawat 
televisi. Televisi digital merupakan alat yang digunakan untuk menangkap siaran 
TV digital, perkembangan dari sistem siaran analog ke digital yang mengubah 
informasi menjadi sinyal digital berbentuk bit data seperti komputer.
Dalam penemuan televisi, terdapat banyak pihak, penemu maupun inovator yang 
terlibat, baik perorangan maupun badan usaha. Televisi adalah karya massal yang 
dikembangkan dari tahun ke tahun. Awal dari televisi tentu tidak bisa dipisahkan 
dari penemuan dasar, hukum gelombang elektromagnetik yang ditemukan oleh 
Joseph Henry dan Michael Faraday (1831) yang merupakan awal dari era 
komunikasi elektronik.
1876 – George Carey menciptakan selenium camera yang digambarkan dapat 
membuat seseorang melihat gelombang listrik. Belakangan, Eugen Goldstein 
menyebut tembakan gelombang sinar dalam tabung hampa itu dinamakan sebagai
 sinar katoda.
1884 – Paul Nipkov, Ilmuwan Jerman, berhasil mengirim gambar elektronik 
menggunakan kepingan logam yang disebut teleskop elektrik dengan resolusi 18 garis.
1888 – Freidrich Reinitzeer, ahli botani Austria, menemukan cairan kristal 
(liquid crystals), yang kelak menjadi bahan baku pembuatan LCD. Namun LCD 
baru dikembangkan sebagai layar 60 tahun kemudian.
1897 – Tabung Sinar Katoda (CRT) pertama diciptakan ilmuwan Jerman, Karl 
Ferdinand Braun. Ia membuat CRT dengan layar berpendar bila terkena sinar. 
Inilah yang menjadi dassar televisi layar tabung.
1900 – Istilah Televisi pertama kali dikemukakan Constatin Perskyl dari Rusia pada 
acara International Congress of Electricity yang pertama dalam Pameran Teknologi 
Dunia di Paris.
1907 – Campbell Swinton dan Boris Rosing dalam percobaan terpisah menggunakan 
sinar katoda untuk mengirim gambar.
1927 – Philo T Farnsworth ilmuwan asal Utah, Amerika Serikat mengembangkan 
televisi modern pertama saat berusia 21 tahun. Gagasannya tentang image dissector
 tube menjadi dasar kerja televisi.
1929 – Vladimir Zworykin dari Rusia menyempurnakan tabung katoda yang 
dinamakan kinescope. Temuannya mengembangkan teknologi yang dimiliki CRT.
1940 – Peter Goldmark menciptakan televisi warna dengan resolusi mencapai 
343 garis.
1958 – Sebuah karya tulis ilmiah pertama tentang LCD sebagai tampilan 
dikemukakan Dr. Glenn Brown.
1964 – Prototipe sel tunggal display Televisi Plasma pertamakali diciptakan 
Donald Bitzer dan Gene Slottow. Langkah ini dilanjutkan Larry Weber.
1967 – James Fergason menemukan teknik twisted nematic, layar LCD yang lebih 
praktis.
1968 – Layar LCD pertama kali diperkenalkan lembaga RCA yang dipimpin George 
Heilmeier.
1975 – Larry Weber dari Universitas Illionis mulai merancang layar plasma berwarna.
1979 – Para Ilmuwan dari perusahaan Kodak berhasil menciptakan tampilan jenis 
baru organic light emitting diode (OLED). Sejak itu, mereka terus mengembangkan 
jenis televisi OLED. Sementara itu, Walter Spear dan Peter Le Comber membuat 
display warna LCD dari bahan thin film transfer yang ringan.
1981 – Stasiun televisi Jepang, NHK, mendemonstrasikan teknologi HDTV dengan 
resolusi mencapai 1.125 garis.
1987 – Kodak mematenkan temuan OLED sebagai peralatan display pertama kali.
1995 – Setelah puluhan tahun melakukan penelitian, akhirnya proyek layar plasma 
Larry Weber selesai. Ia berhasil menciptakan layar plasma yang lebih stabil dan 
cemerlang. Larry Weber kemudian megadakan riset dengan investasi senilai 
26 juta dolar Amerika Serikat dari perusahaan Matsushita.
dekade 2000- Masing masing jenis teknologi layar semakin disempurnakan. Baik
 LCD, Plasma maupun CRT terus mengeluarkan produk terakhir yang lebih sempurna
 dari sebelumnya.
Pengertian Televisi Analog.

Pada televisi analog, alat yang digunakan untuk mengkodekan informasi gambar 
yaitu dengan memvariasikan voltase dan / atau frekuensi dari sinyal. selanjutnya 
seluruh sistem yang ada sebelum televisi digital dapat dimasukan ke sistem analog.
 Sistem ini dianggap lebih ribet atau sulit. Pada sistem analog dibutuhkan antena 
dan kabel yang membantu dalam proses penyiaran. 
2.2. Perbedaan antara TV Analog dan TV Digital

·       Kualitas gambar dan suara
Siaran televisi digital terestrial menyajikan gambar dan suara yang jauh lebih stabil
dan resolusi lebih tajam ketimbang analog. Hal ini dimungkinkan oleh penggunaan 
sistem Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) yang mampu mengatasi
efek lintas jamak (multipath). Pada sistem analog, efek lintasan jamak 
menimbulkan echo atau gaung yang berakibat munculnya gambar ganda (seakan ada bayangan).
Penyiaran televisi digital menawarkan kualitas gambar yang sama dengan kualitas DVD, bahkan stasiun-stasiun televisi dapat memancarkan programnya dalam format 16:9 (layar lebar) dengan standar Standard Definition (SD) maupun High Definition (HD). Kualitas suara pun mampu mencapai kualitas CD Stereo, bahkan stasiun televisi dapat memancarkan suara dengan Surround Sound (Dolby DigitalTM).
·       Tahan perubahan lingkungan
Siaran televisi digital terestrial memiliki ketahanan terhadap perubahan lingkungan 
yang terjadi karena pergerakan pesawat penerima (untuk penerimaan mobile TV), 
misalnya di kendaraan yang bergerak, sehingga tidak terjadi gambar bergoyang 
atau berubah-ubah kualitasnya seperti pada TV analog saat ini.
·       Tahan terhadap efek interferensi
Teknologi ini punya ketahanan terhadap efek interferensi, derau dan fading, serta 
kemudahannya untuk dilakukan proses perbaikan (recovery) terhadap sinyal yang
 rusak akibat proses pengiriman atau transmisi sinyal. Perbaikan akan dilakukan di 
bagian penerima dengan suatu kode koreksi error (error correction code) tertentu.
·       Efisiensi spektrum/kanal
Teknologi siaran televisi digital lebih efisien dalam pemanfaatan spektrum dibanding 
siaran televisi analog. Secara teknis, pita spektrum frekuensi radio yang digunakan 
untuk siaran televisi analog dapat digunakan untuk penyiaran televisi digital 
sehingga tidak perlu ada perubahan pita alokasi baik VHF maupun UHF. 
Sedangkan lebar pita frekuensi yang digunakan untuk analog dan digital 
berbanding 1 : 6, artinya bila pada teknologi analog memerlukan pita selebar 8 MHz
 untuk satu kanal transmisi, maka pada teknologi digital untuk lebar pita frekuensi 
yang sama dengan teknik multiplex dapat digunakan untuk memancarkan sebanyak
 6 hingga 8 kanal transmisi sekaligus dengan program yang berbeda tentunya.

2.3. Cara memproduksi siaran TV Analog dan TV Digital

                                                                                      TV Analog




                                                                  TV Digital





               Dari gambar di atas, nampak perbedaan yang sangat mendasar antara 
siaran tv digital (B) dan siaran tv analog (A). Siaran tv analog, konten siarannya 
analog dipancarkan melalui pemancar analog menjadi sinyal tv analog pada 
frekuensi radio uhf/vhf dan diterima oleh pesawat tv analog melalu antena uhf/vhf.

               Sedangkan siaran tv digital, konten siarannya digital, atau kalau masih 
analog di-encoding ke digital, dipancarkan tetap pada frekuensi radio uhf/vhf oleh 
pemancar digital menjadi sinyal tv digital, diterima antena biasa uhf/vhf yang 
dilengkapi penerima digital (set top box-STB) yang berfungsi mengkonversi 
sinyal tv digital menjadi sinyal yang bisa diterima tv analog.
Pada pesawat tv digital tidak lagi memerlukan set top box (penerima digital) 
karena sudah terintegrasi di dalamnya. Sistem penyiaran tv digital di Indonesia 
menggunakan standar penyiaran DVB-T2 (Digital Video Broadcasting-Terrestrial 
Second generation). Ini berarti untuk dapat menerima siaran tv digital, pesawat tv 
harus dilengkapi alat penerima sinyal tv digital DVB-T2 (Set Top Box – DVB-T2).

               Perangkat TV Analog menggunakan tabung katoda sebagai display, 
sementara TV Digital menggunakan panel layar datar seperti LCD, plasma, atau 
LED. Akibatnya, TV Analog cenderung lebih besar dan tebal dibandingkan dengan 
TV Digital. TV Analog juga mengonsumsi daya yang lebih banyak dibandingkan 
dengan TV Digital.

               Resolusi perangkat TV Digital bisa diatur di angka 480p (SD = Standar 
Definition) atau bahkan di 780p atau 1080i / p yang dikenal sebagai HD atau high 
definition. HD memungkinkan untuk meningkatkan ukuran TV tanpa mengorbankan 
kualitas gambar pada layar. TV Analog menggunakan resolusi SD. Meskipun telah
 ada upaya untuk mengimplementasikan HDTV untuk TV Analog, akan tetapi 
persyaratan dalam hal bandwidth yang terlalu besar sehingga tidak mungkin 
diterapkan.

               Dalam produksinya, TV Analog biasanya terbatas pada ukuran di bawah 
30 inci karena membuat ukuran layar lebih besar menimbulkan tantangan yang lebih
 besar tanpa keuntungan nyata dalam kualitas gambar. Sementara TV Digital telah 
berkembang hingga dapat memiliki layar dengan ukuran lebih dari 50 inci.


2.4. Cara distribusi siaran untuk TV Analog dan TV Digital

                            Proses Pendistribusian dan Penerimaan TV Analog dan Digital



               Pada TV Analog, untuk mendapatkan siaran televisi digunakan alat 
penangkap sinyal yang disebut antena. Pada siaran televisi analog, semakin jauh letak 
antena dari stasiun pemancar televisi, sinyal yang diterima akan melemah dan 
mengakibatkan gambar yang diterima oleh pesawat televisi menjadi buruk dan 
berbayang.

               Sedangkan pada TV Digital, proses penerimaan sinyal gambar, suara, dan 
data yaitu menggunakan modulasi digital dan sistem kompresi. Modulasi itu sendiri 
adalah proses perubahan suatu gelombang periodik sehingga menjadikan suatu 
sinyal mampu membawa suatu informasi. Dengan proses modulasi, suatu informasi 
(biasanya berfrekeunsi rendah) bisa dimasukkan ke dalam suatu gelombang pembawa, 
biasanya berupa gelombang sinus berfrekuensi tinggi. Peralatan untuk melaksanakan 
proses modulasi disebut modulator, sedangkan peralatan untuk memperoleh informasi 
informasi awal (kebalikan dari dari proses modulasi) disebut demodulator dan peralatan
yang melaksanakan kedua proses tersebut disebut modem.

               Kalau pada sistem TV analog yang sekarang ini kita nikmati sebuah kanal RF 
hanya ditempati oleh satu sinyal program siaran TV, maka pada sistem digital setiap 
kanal RF dapat digunakan bersama secara multipleks oleh beberapa program siaran. 
Di samping itu, teknik modulasi digital disertai pengolahan sinyal yang canggih 
memungkinkan sistem TV digital lebih tahan terhadap gangguan derau, distorsi oleh 
kanal, maupun efek interferensi. Akibatnya kualitas gambar yang dihasilkan juga lebih 
baik dibandingkan sistem analog. Contoh penerimaan gambar di dalam gedung: siaran 
analog mengalami efek gambar ganda atau ghost sedangkan siaran digital memberikan 
gambar sempurna Di samping itu, teknologi digital memungkinkan jaringan pemancar 
TV yang bekerja pada frekuensi yang sama (single frequency network, SFN) untuk 
meningkatkan cakupan dan kualitas sinyal.Dari dua hal di atas, kapasitas dan kualitas, 
tampak bahwa sistem TV digital punya daya tarik yang tinggi, baik bagi masyarakat 
sebagai konsumen maupun bagi industri dan pemerintah. Misalkan saja setiap kanal 
RF memultipleks 5 program siaran, berarti teknologi ini menjanjikan lapangan kerja 
minimal 5 kali lebih besar di bidang industri kreatif. Demikian pula penerimaan gambar 
yang lebih baik dibanding analog, dalam kondisi nonLOS dan bergerak, tentu menarik 
bagi penikmat TV dengan mobilitas tinggi. Di Indonesia, migrasi dari analog ke digital 
menuntut tersedianya perangkat decoder atau settop box yang murah, sedemikian 
hingga seluruh lapisan masyarakat dapat menikmati siaran TV digital tanpa perlu 
membeli pesawat TV baru.


2.5. Cara memproduksi film Digital

Proses filmmaking dilakukan di banyak tempat di seluruh dunia dengan berbagai 
konteks ekonomi, sosial, politik, serta menggunakan teknologi dan teknik yang 
sistematik. cara pembuatan film yang satu dengan lain pada dasarnya sama, yang 
membedakan adalah tantangan untuk mewujudkan step by step pembuatan tersebut.

1. Menentukan Ide Cerita

               Buatlah sebuah ide cerita untuk filmmu. tentukan terlebih dulu genre film 
yang ingin kamu buat. Drama, horor, action, atau genre lain. Usahakan untuk 
menciptakan ide cerita yang tidak pasaran. Kalau toh kamu ingin mengangkat cerita 
yang sudah umum, kemaslah dengan unik. Selain itu, cobalah untuk menentukan 
tema cerita yang familiar dengan masyarakat karena biasanya masyarakat suka 
menintin film yang “ini kisah gue banget loh”.

2. Tentukan Sasaran Penonton

               Setelah menentukan ide cerita dan tema. Tentukan pula film ini ingin 
ditujukan untuk siapa? Apakah anak-anak, remaja, atau dewasa? menentukan 
segmentasi penonton akan mempermudah kita membuat alur cerita yang menarik.

3. Membuat Sinopsis Film

               Sinopsis adalah komponen yang harus ada dalam sebuah film. Semua film 
memerlukan sinopsis, tidak terkecuali film dokumenter. Tulislah sinopsis yang ringkas, 
padat, jelas, tepat sasaran dengan konflik yang jelas, dan ending yang bisa memberi 
kejutan bagi penonton.

4. Menulis Skenario

               Setelah membuat sinopsis singkat, langkah selanjutnya adalah menulis 
skenario. Skenario ini bisa kamu tulis sendiri atau meminta orang lain (yang kompeten) 
untuk menuliskannya. Skenario harus ditulis seecara detail dan rinci. Dimana scene 
akan diambil (apakah diluar atau di dalam ruangan), bagaimana ekspresi dan 
gerak-gerik para pemain, serta penjelasan dilokasi mana mereka akan mengambil 
gambar.

5. Menyiapkan Alat-alat Teknis

               Tentukan story board (alat perencanaan yang menggambarkan urutan 
kejadian berupa kumpulan gambar dalam sketsa sederhana), tentukan lokasi yang 
sesuai dengan skenario. Siapkan kru, lampu, kamera, setting, property, kostum, 
make up team, dll.

6. Tentukan Budget

               Setelah menentukan semua alat teknis dan pemain yang kita inginkan, 
maka kita harus membuat anggaran agar tidak melebihi budget yang sudah kamu 
tentukan. seandainya anggaran melebihi budget mungkin kamu bisa menyiasati 
dengan “sewa” entah itu sewa kostum, properti atau alat sehingga biaya tidak 
terlampau membengkak.

7. Syuting dan Editing

               Setelah ke enam komponen persiapan siap dan izin untuk pembuatan film 
sudah turun, maka kamu sudah bisa memulai proses syuting sesuai dengan skenario 
yang ada. Apabila proses syuting sudah selesai maka langkah selanjutnya adalah 
mengedit film berdasarkan urutan scene dalam skenario.

8. Review dan Revisi

               Setelah melalui tahap editing bukan berarti film sudah jadi. Alangkah baiknya 
jika kamu meriviewhasil film yang sudah ada kemudian melakukan revisi apabila ada 
scene yang jelak dan tidak sesuai dengan skenario. Scene tersebut bisa kamu buang 
atau kamu ganti dengan yang baru.

9. Buat Promosi

               Setelah semua proses pembuatan selesai, saatnya kamu mempromosikan 
film yang kamu buat dengan berbagai media. Bis amelalui web, blog, twitter, facebook, 
poster, trailer, dan media lain.

10. Masukkan dalam DVD

               Setelah seluruh proses persiapan, pembuatan, dan revisi selesai. Kamu bisa 
memasukkan film tersebut dalam keping DVD untuk digandakan. Entah itu untuk 
keperluan pribadi atau promosi.


2.6. Keunggulan dan Keindahan film Digital

1. Lebih Komprehensif

Perbedaan paling utama dan mendasar adalah kemampuan media digital dalam 
melaporkan peristiwa dengan lebih komprehensif pada pembaca/audiens. Sebuah 
berita di era digital tak hanya terdiri dari teks dan foto, tapi juga tautan ke semua 
peristiwa sebelumnya yang mengawali momen termutakhir dari berita bersangkutan.
Dengan satu klik, pembaca bisa dibawa ke harta karun informasi digital yang bisa 
menjelaskan sejarah, kronologi dan konteks dari peristiwa yang tengah diberitakan. 
Peranan ini tentu saja tidak dimiliki oleh media cetak.
2. Lebih Otentik

Berita digital juga berpotensi lebih otentik, karena bisa menampilkan realitas secara 
lebih utuh. Bisa ada video di halaman yang sama dengan teks dan foto, sesuatu 
yang jelas menambah kredibilitas dan akurasi dari informasi yang dimuat di sana.
Misalnya, saat seorang anggota DPR dituduh mencaci maki seseorang, media 
digital bisa menampilkan video atau audio ketika sang politikus beraksi. Politikus itu 
tak bisa berkilah kalau omongannya diplintir, atau wartawan memfitnah dirinya, 
kalau rekaman audio atau video ketika dia mencacimaki lawan politiknya bisa
ditampilkan bersama berita.
Lihat saja kasus #papamintasaham. Peristiwa itu akan jauh berkurang daya 
ledaknya, jika tak ada rekaman audio yang beredar luas di media sosial.
3. Big Data

Media digital yang belum banyak digali adalah kemampuannya menampilkan big 
data atau data besar. Semua angka-angka hasil survei kesehatan, survei demografi, 
sensus, angka-angka hasil pemantauan bertahun-tahun, kini sudah banyak tersedia 
sebagai data digital terbuka (open data) dan dengan mudah dapat diakses di internet.
Ada portal data.go.id yang menampilkan seabreg data pemerintah dari hampir 
semua kementerian. Di Jakarta, sudah ada portal serupa.
Jika dulu suratkabar atau majalah hanya bisa memuat satu dua paragraf temuan 
berbagai survei itu dan melengkapinya dengan wawancara dengan pakar untuk 
menafsirkan data, kini data mentah itu bisa ditampilkan dengan utuh di laman media 
digital, dengan visualisasi yang menarik dan mengundang rasa ingin tahu pembaca.
Jurnalisme data akan menjadi tulang punggung utama jurnalisme di era digital, 
karena teknik ini memungkinkan publik mengakses data mentah dengan utuh, 
tanpa perantara dari pakar, pemerintah atau pengamat.
Untuk itu, jurnalis harus belajar dan berusaha keras mencari semua data-data 
yang relevan buat publik, membersihkannya dan menganalisanya, untuk kemudian 
ditampilkan dengan visualisasi yang mudah dipahami audiens.
Hal itu sangat penting agar data tak berhenti sebatas angka, namun bisa jadi 
pengetahuan yang berguna.
4. Interaksi Langsung

Yang satu ini menjadi kemampuan media digital yang tidak ditemukan di media 
cetak manapun, yakni kemampuannya untuk terhubung langsung dengan pembaca. 
Relasi atau engagement antara media, jurnalis dan pembaca kini memasuki era baru.
Pembaca kini adalah bagian dari redaksi, bagian dari newsroom di era digital. 
Mereka bisa memberikan tips, bocoran, saran, komentar, secara real time, pada 
redaksi. Aturan baku di media sosial adalah: selalu ada yang lebih tahu dari Anda 
di luar sana.
Pola diseminasi informasi di era digital kini multi arah, tak lagi hanya searah dari 
ruang redaksi yang “maha tahu” ke lautan pembaca yang perlu “diberi tahu”. Media 
massa kini adalah bagian dari percakapan publik, dimana produksi informasi tak lagi
dimonopoli jurnalis.
Apa artinya? Ini kesempatan besar untuk jurnalisme menjadi lebih relevan. 
Bukankah jurnalisme pada dasarnya adalah upaya untuk menyediakan informasi 
yang penting dan berguna buat publik sehingga publik bisa mengatur dirinya sendiri 
dengan lebih baik?
Jika khalayak ramai bisa langsung berkomunikasi dengan media dan menyampaikan 
apa saja yang mereka anggap penting, bukankah itu akan membuat redaksi dan 
jurnalis bisa bekerja lebih baik?
Jika dulu sama sekali tidak ada percakapan antara wartawan dan pembaca, kini 
publik dan media bisa bersama-sama merumuskan agenda pemberitaan, 
memfokuskan perhatian pada lembaga-lembaga yang memang perlu disorot karena 
dampaknya yang besar untuk kehidupan orang banyak.

2.7. Teknik pembuatan naskah film Digital

1. Mulailah dengan Premis

Ada pepatah yang mengatakan bahwa jika kamu tak bisa menjelaskan sesuatu 
dengan sederhana, maka kamu tak cukup mengerti. Pepatah ini berlaku dalam 
penulisan skenario. Jadi, silahkan camkan baik-baik pepatah tersebut sebelum
 kamu memulai proses kreatifmu.
Kamu harus bisa menjelaskan ceritamu dalam satu kalimat. Pernahkah kamu 
mendengar istilah elevator pitch? Ini adalah istilah yang menjelaskan sebuah 
perandaian dimana kamu bertemu seorang produser ternama di sebuah lift dan 
tiba-tiba ia menanyakan apa yang sedang kamu kerjakan. Penjelasan panjang 
dan bertele-tele tidak akan membuatnya tertarik, sementara beberapa detik kemudian, 
ia sudah tiba di kantornya, meninggalkan kamu yang masih belepotan menjelaskan. 
Jelaskan dengan singkat, lugas, dan tepat.

2. Jabarkan Premis Menjadi Sinopsis Pendek

Kamu sudah punya satu kalimat yang menjelaskan film pendekmu secara 
keseluruhan. Sekarang, coba jabarkan satu kalimat ceritamu menjadi tiga kalimat. 
Tiga kalimat ini disebut sinopsis. Sekali lagi, jangan terpaku pada detail-detail yang 
tidak perlu karena kita belum sampai ke sana. Pilihlah kalimat dengan bijak, karena 
ini akan menentukan proses penulisanmu berikutnya. Jika kamu mulai keluar dari 
fokus, ingatlah kembali satu kalimat premismu, agar cerita tidak kehilangan fokus.

Perhatikan pula hubungan sebab-akibat dalam menulis kalimat sinopsis. Hubungan 
sebab-akibat yang baik akan memudahkanmu dalam menulis babak pertama, kedua, 
dan ketiga. Ketiga kalimat tersebut haruslah mewakili ketiga babak tersebut. 
Babak pertama mewakili situasi awal, babak kedua menceritakan pokok persoalan, 
dan babak ketiga menceritakan penyelesaian.

3. Jabarkan Menjadi Sinopsis Panjang

Kini kamu sudah memiliki sinopsis pendek yang solid. Sekarang tugasmu adalah 
memasukan detail-detail dari ketiga kalimat sinopsis pendekmu. Cara paling mudah 
adalah menjabarkan ketiga kalimat sinopsis menjadi tiga paragraf. Masing-masing 
kalimat di langkah sebelumnya bisa kamu jadikan topic sentence.

Apa itu topic sentence? Topic sentence adalah kalimat utama dan pertama yang 
mengidentifikasikan isi paragraf. Topic sentence selalu ditulis di awal sebuah paragraf.  
Ia harus bisa menjelaskan topik keseluruhan dalam satu paragraf. Topic sentence 
selalu didukung oleh kalimat-kalimat pendukung. KalimatLanjutkan Menjadi Sebuah 
Cerpen (Treatment)
Oke, sekarang ceritamu sudah semakin detail, bukan? Jangan puas dulu, karena 
perjalananmu masih panjang sampai naskahmu siap untuk dieksekusi. Sekarang 
kamu punya tiga paragraf yang berisi karakter, masalah, dan tindakan yang diambil 
oleh sang karakter. Tugasmu adalah menjabarkan lagi tiga paragraf tersebut menjadi 
cerpen (cerita pendek) yang terdiri dari beberapa paragraf.

Kamu bisa cari berbagai referensi cerpen baik di Google, perpustakaan, maupun 
toko buku. Jangan khawatir dulu soal dialog yang diucapkan oleh karakter, jangan 
khawatir pula soal pembagian adegan maupun urutan shot. Itu urusan nanti. 
Sekaramng fokus dulu pada penjabaran tiga paragraf sinopsis panjang. 
Berpeganglah pada struktur yang sudah kau tulis di sinopsis panjang. 
Ketika kamu mulai hilang fokus dan merasa cerita mulai bertele-tele, buka kembali 
premis utamamu dan ingat kembali apa yang menjadi fokus utamamu.

Cara paling mudah untuk melakukannya adalah menjabarkan lagi masing-masing 
paragraf menjadi tiga paragraf. Misalnya dalam kasus Finding Nemo, kamu bisa 
jabarkan lagi paragraf pertama yang berisi situasi awal hubungan Marlin dan Nemo 
ke dalam tiga paragraf. Perkaya tulisanmu dengan penggambaran latar tempat dan 
waktu yang lebih detail. Bangun nuansa menggunakan kata-kata sifat untuk 
membantu pembaca memahami dunia yang sedang kamu bangun. Lengkapi pula 
dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh karakternya. pendukung harus tetap 
bersinggungan dan memperkuat topik utama.

4. Tulis Ulang Cerpenmu dalam Format Naskah & Tambahkan Dialog

Jika kamu mengikuti petunjuk kami diatas, maka sekarang kamu sudah memiliki 
minimal 9 paragraf cerita pendek. Sekarang saatnya kamu menuangkannya ke 
dalam format naskah.

Sebelum ke sana, cara paling mudah untuk mempersiapkanmu menulis naskah 
adalah menjabarkan 9 paragraf tersebut ke dalam urutan adegan (scene). Adegan 
(scene) dibagi sesuai dengan latar tempat dan waktu. Apabila suatu situasi terjadi 
dalam satu tempat dan waktu, maka ia dihitung sebagai satu adegan. Jabarkan 
ceritamu ke dalam urutan latar waktu dan tempat. Lalu tulis kejadiannya dengan 
semakin detail.


Setelah melalui tahapan diatas, kamu juga harus memperhatikan bagian-bagian yang 
ada dalam naskah film. Suatu naskah film terdiri dari enam bagian, yaitu:

Title Page
adalah judul yang akan dijadikan pedoman pertama bagi seorang produser untuk 
menilai apakah pembuat naskah itu seorang profesional atau hanya amatiran.

Scene Heading
merupakan sebuah petunjuk dimulainya suatu naskah. Kata yang digunakan yaitu 
“EXT. — ” (cerita berlangsung di luar ruangan) dan “INT. — (cerita berlangsung di 
dalam ruangan). Kemudian diikuti nama sebuah tempat yang harus ditulis dengan 
huruf kapital.

Action
biasanya ditulis 2 baris dibawah Scene Heading. Action adalah gambaran yang 
menceritakan apapun yang akan terlihat dalam adegan film dan selalu pada keadaan 
sekarang ( Present Time ).

Dialogue
merupakan segala sesuatu yang dibicarakan oleh tokoh atau karakter.

Parenthetical
adalah keterangan yang menjelaskan segala sesuatu yang dilakukan oleh karakter 
atau tokoh.


Transition
sebuah deskripsi pendek untuk menjelaskan bahwa cerita berpindah dari scene ke 
scene lain. Diantaranya adalah: CUT TO, DISSOLVE TO, INTERCUT WITH atau 
INTERCUT BETWEEN. Sedangkan pada akhir cerita biasanya FADE OUT, 
IRIS OUT, dll.


Diberdayakan oleh Blogger.